Sunday Selling bersama SKI Pabelan
Minggu, 23 November 2014 saya harus bangun pagi-pagi
walaupun setiap hari lebih pagi dari hari ini :D, bangun jam berapapun tak
masalah bagiku ketika hati sudah bertekad untuk melakukan sesuatu yang sudah
saya niati sebelumnya. Jam 6 pagi rencananya dan itupun sudah tak lebihin
sedikit berangkat ke kampus karna kosku ya lumayan deketlah.., eh tetep aja
masih ada aja yang ditunggu-tunggu. Inilah orang Indonesia selalu
ngaret-ngaret. Bisa dibayangkan ketika semua orang berpikiran sama untuk
ngolor-ngolor waktu, apa yang akan terjadi? Pasti akan berantakan dan tidak
sesuai perencanaan. Mana disiplin waktunya? Kita akan kalah dengan orang barat
yang memang sangat disiplin akan waktu. Ya pada akhirnya setelah yang ditunggu udah
pada dateng kita langsung cuss aja ke cfd tanpa menunggu ikhwan yang masih
nyari2 pinjaman motor. Semoga dimudahkan deh... seperti inilah dakwah SKI
Pabelan. Apapun yang terjadi kita akan berangkat, kalo tak ada motor pun ya
cari pinjaman, kalo gak dapat pinjaman ya masih ada angkot kan. Semoga ada
pahala sendiri yang akan memberatkan timbangan amal kita.
Tanpa
mengharapkan imbalan hanya mengharap ridho Allah, kita tidak akan lelah untuk
melakukan hal-hal seperti ini. Ya seperti yang saya rasakan, walaupun sempat
pesimis di awal apakah laku atau ndak karna saya juga baru pertama jualan di
cfd kayak gini walaupun sebelumnya juga pernah jualin produk teman.. tapi ya
nggak koar-koar kayak di cfd ini. Hehe...
Tapi alhamdulillah, baru terjual 1 itu senengnya minta
ampun deh, hehe... ya karna kita juga baru belajar. Akhirnya kita mulai
berpikir lagi, berhenti sejenak dan mengutak-atik pikiran. Gimana caranya usaha
yang kita lakukan berhasil. Masak kita berlima (2 PHT BP dan Keu, 2 pamong
medjar dan adminkeu , 1 maganger medjar) bergerombolan gitu aja kayak mau
nyerbu orang. Akhirnya kita bagi job (aku, mbak syifa, dek jebpridar di selatan
jalan. Mbak eva sama mini di utara jalan), tak lupa kita buat tulisan kayak
aksi di selembar kertas HVS, tulisannya “JUS JAMBU 1 @ Rp2000 3 Rp5000”
tempel di termos. Di sepanjang jalan kami berkoar-koar, bukan berkoar-koar
“turunkan BBM” karna ini musim2nya aksi BBM tapi koar-koarnya dengan bahasa
alus “Pak, buk JUS JAMBU JUS JAMBU 5000 dapet 3 1nya 2000, monggo ngersakaken
pak buk, masih dingin masih dingin” terkadang banyak yang menolak terkadang
hanya dengan tatapan mata atau dengan tolakan tangan karna sudah banyak yang
membawa es, saya hanya bisa tersenyum dan hati saya memberontak andai saja kita
lebih pagi kesini pasti tak akan lama ludesnya tapi saya gak akan menyerah
sampai jusnya habis walaupun cfd nya sampai tutup. Kalo kemarin sih katanya
cuma ngambil 1 titik tanpa harus longmarch. Tapi saya berpikir, memang seperti
itu lebih memudahkan kita dan gak begitu lelah jika dibandingkan kalo kita
longmarch, tetapi menurutku itu gak akan maksimal, bisa jadi di titik itu
banyak orang lewat akan tetapi banyak yang tidak tertarik juga dan kita hanya
menunggu orang yang datang karena memang bener2 sedang membutuhkan minum. Namun Jika kita bergerak lebih gesit lagi
dengan menawarkan di sepanjang jalan, pasti akan menemukan orang yang berbeda-beda
sehingga kita bisa lebih berpersuasif yang menarik lagi, disinilah kita belajar
marketing. Ada taktik tersendiri dalam menemukan sasaran ketika kita Sunday
Selling. Ketika saya menawarkan ke anak muda pasti banyak yang menolak, tetapi
ketika saya menawarkan ke orangtua yang membawa anak kecil maka si anaknya yang
merengek ke orangtuanya minta dibelikan. Terkadang kita juga harus kreatif
dalam beretorika. Menurut analisis saya, kalo anak muda biasanya cenderung
lebih memilih sesuai yang mereka minati karna di cfd itu banyak sekali makanan
dan minuman yang menggoda sehingga kita tinggal pilih sesuai permintaan lidah
kita, tetapi jika orangtua itu biasanya cenderung memilih seadanya dan siap
didepan mata tanpa harus bersusah payah mencari-cari. Dan kalo anak balita itu
biasanya mudah untuk dirayu ketika kita memperlihatkan produk kita. Dan ketika
saya menemukan trik tersebut saya tau sasaran marketing saya kesiapa. Dan saya
terus mencoba untuk beretorika disepanjang jalan dengan gaya saya sendiri dan
tak lama kemudian saya mendapati pembeli dua orang pemuda (mas-mas dan
mbak-mbak), yang tertarik dengan gaya kita. Umurnya sih kelihatannya masih
berkepala 2, tanpa banyak beretorika dia langsung bilang 5000 mbak, ya seneng
banget hati gue tanpa banyak beretorika masnya langsung beli banyak, spontan
saya berusaha lebih dengan mengeluarkan lagi retorika saya, “sepuluh ribu
sekalian mas” eh ternyata berhasil, masnya mau beli sepuluh ribu tapi dengan
syarat yang lima ribu diberikan ke orang-orang. Ya kita terima aja amanahnya.
Alhamdulillah...dalam hatiku bersyukur, semoga kebaikanmu dibalas lebih baik
oleh Allah ya mas. Semakin berjalan ke timur alhamdulillah semakin berkurang
jus jambunya, dan ketika masih 2 buah kita turunin harga “3000 dapat 2”. Dan
saya menemukan bapak-bapak yang mencoba menasihati bisa dikatakan memberi
trik-trik dalam berjualan, point intinya kita kurang kreatif, kenapa gak
beraneka jus misalnya tambah jus sirsak sekalian dan biar banyak orang tertarik
dikasih khasiatnya juga dan bawa juga yang gak dingin soalnya orangtua gak suka
dingin, bla bla bla dan bla bla bla. Kita hanya bisa mendengarkan dan
berterimakasih pada bapak tersebut. Tetapi kita punya alasan sendiri kenapa
kita hanya jualan jus jambu ya karna modal kita hanya sedikit dan mengharapkan
keuntungan yang lebih banyak. Ini aja sudah bersyukur banget. Akhirnya dagangan
kita laris manis.
Oh ya kita juga gak lupa sama amanahnya mas-mas tadi ngasihin
jus jambu ke orang-orang yang sudah
dibayarin tadi. Tentunya kita juga tidak memberikan ke sembarang orang, tapi
kita memberikannya ke orang-orang yang lebih membutuhkan misalnya orang renta
yang masih mau bekerja walaupun hanya sebagai pemungut sampah. Ya karena sudah
habis dan sudah jam 8 kami kembali dan berkomunikasi dari kubu utara. Ternyata kelompok
yang utara masih ada sisa dan di suatu tempat kami menunggu mereka, muncullah
mereka dari arah timur dengan membawa sisa sayangnya sudah gak dingin lagi,
akhirnya saya mencoba beretorika lagi, kita menemukan 2 pemuda yang sedang
membawa makanan tanpa membawa minuman, kelihatannya ada sambelnya. Analisis
kami kelihatannya mas nya kepedesan, akhirnya kami tawarkan ke mas-masnya “Mas,
jus jambunya tinggal 2, 3000 aja” kataku seperti itu. Ditambah suara-suara dari
gerombolan kami “ya mas, kan pas tuh masnya berdua, kelihatannya kepedesan”,
masnya menjawab dengan melihat ke jus jambunya “Cuma 3000 doang kan?” dengan
mengeluarkan uang sepuluh ribuan disakunya. Alhamdulillah, hatiku lagi-lagi
bertahmid mengucapkan syukur dengan menyerahkan jusnya dan memberikan uang
kembalian ke mas-masnya. Akhirnya habis juga produk kita, seneng banget rasanya
kalo udah habis gini, merasakan bagaimana mencari uang, penuh perjuangan juga.
Tapi sungguh waktu dan perjalananpun tak terasa lama dan jauh karna memang fundrising
itu mengasyikkan kalo udah ada hasilnya. Inilah Sunday selling kami para akhwat
aktivis dakwah pabelan, bagaimana dengan hasil fundrising para ikhwan yang di
manahan?
Kalo pengen jadi pengusaha, kamu harus mencobanya
kawan-kawan, fundrising itu seru...



Komentar
Posting Komentar