Aktivis Dakwah Juga Punya Jam Malam Lhoo..
Mungkin inilah
yang selama ini mengurangi keberkahan dakwah kita. Kebanyakan kita melanggar
prinsip-prinsip yang selama ini diterapkan dalam rangka menjaga kemuntijahan
da’wah. Terkadang kita berdalih, akhwat juga punya kebebasan pulang malam.
Masak ikhwan boleh, akhwat tidak? “Ini darurat ukh, tidak ada waktu lagi
kecuali malam ini”
Saudaraku terkasih, anti itu istimewa. Saking istimewanya jamaah memberikan waktu-waktu khusus untuk anti. Tidak lain semua aturan itu untuk kebaikan anti. Dan tidak lain kalo anti yang melanggarnya anti sendiri yang rugi.
Kita menyadari bahwa kita bukanlah jamaah malaikat, kita memiliki berbagai kekurangan. Saya pun bukan orang baik dan saya pun juga bukan orang sholih. Tapi izinkan saya mengingatkanmu wahai saudaraku.
Sejatinya kebijakan dakwah yang dibentuk hanya untuk kemaslahatan bersama. Ketika diberlakukan jam malam guna melindungi izzah (harga diri) para akhwat tidak selayaknya penolakan kebijakan tersebut justru dimotori oleh aktivis dakwah sendiri dengan dalih apapun yang berusaha disyar’ikan. Rapat koordinasi, syuro, pleno secara tidak sadar telah dicari-cari rukhsoh yang sama sekali tidak dibenarkan apalagi kita berada di ranah da’awi atau bisa disebut dengan Lembaga Dakwah.
Tidak cukupkah berbagai teguran dari Allah mengenai hal ini? ada kejadian-kejadian yang sangat buruk menimpa kaum hawa seperti pemerkosaan di kendaraan umum, perampokan, hingga pembunuhan. Kelompok liberalis mengatakan bahwa ini murni tindak kejahatan. Namun secara logika dan ilmiah tidak mungkin kejahatan terjadi jika tanpa ada pemicu. Dari berbagai analisis masalah, beberapa kasus kejahatan kaum hawa terjadi dengan faktor yang sama yakni: keluar malam, sendiri, dalam keadaan lemah. Akan selalu ada hubungan sebab-akibat dalam tiap masalah.
Terkait kebijakan jam malam akhwat ternyata masih belum mampu
memberikan suatu ‘reflek’ otomatis pada diri akhwat-akhwat kebanyakan. Jadi
wajar saja ketika kebijakan belum juga membudaya jika komunitas pelopornya
(aktivis dakwah akhwat) saja masih belum paham esensi dan menerapkannya.
Mengingat label “pejuang Alloh” yang
melekat pada kita membuat kita terkadang berat menjalani hari-hari. Label
tersebut menjadikan kita sorotan dan seakan kita adalah parameter kebaikan seorang
pemuda. Label tersebut yang kemudian menjadi ‘rem’ kita dalam bergerak dan berprilaku. Pun kemudian ada
peraturan-peraturan yang harus kita jalankan ketika kita mengazamkan diri
menjadi ‘pejuang’. Misalnya jam malam akhwat, bagi saya jam malam adalah ‘rem’ cakram yang sangat menjaga saya
sebagai akhwat terhindar dari hal-hal yang membahayakan diri saya. Jam malam
adalah sesuatu yang memang disepakati untuk menjaga kehormatan kita sebagai
‘bunga’ ummat Islam yang harum. Subhanallah...
Dan jujur, saya sungguh kecewa dengan kejadian beberapa hari lalu di salah
satu lembaga dakwah yang saya ikuti. Katanya aktifis dakwah, pejuang
panji-panji Allah, tetapi lalai dengan aturan. Oke, memang kondisi saat itu
darurat, tidak diizinkannya MABIT. Tapi apakah tidak ada cara lain selain
menyudahi pleno jam 9 malam? Itu sudah melanggar kebijakan dakwah akhi ukhti,
kenapa harus menabrak-nabrak jam malam akhwat? Apakah tidak ada waktu lain?
Saya yakin antum/na sudah paham mengenai aturan ini. Bahwa aturan jam malam
akhwat khususnya daerah solo pukul 20.00-05.00. Sebenarnya yang antum/na cari
apa? Bukankah keberkahan? Dan keberkahan tidak bisa diperoleh dengan
menghalalkan segala macam cara termasuk melanggar aturan. Memang tak ada dalil
mengenai aturan jam malam, tetapi ini adalah sebuah kebijakan untuk menjaga
kaum hawa dari fitnah keamanan, fitnah kejahatan dan fitnah lawan jenis. Dan
aturan tetaplah aturan. Sungguh tidak etis ketika ada akhwat(jilbaber lagi)
berkeliaran di luar pada malam hari.
“Dan dari kejahatan malam
apabila telah gelap gulita,”
(QS.Al-Falaq : 3)
(QS.Al-Falaq : 3)
Dan ketika
kita dibenturkan dengan jam
malam, kitalah
yang harus membentengi diri sendiri. Salah satunya dengan tetap memegang
prinsip untuk patuh dengan aturan jam malam. Untuk apa memperjuangkan
‘kebenaran’ tapi kita tak ternilai dimata Alloh. Untuk apa ‘nahi munkar’ tapi kita melakukan kedzaliman pada diri sendiri
dengan melanggar hasil syura (jam malam,
-red).
Yaa ukhtiy... sungguh jam malam itu
hakikatnya baik untuk kita. Jam malam tidak lah membatasi kita untuk bergerak.
Jam malam tidak akan pernah menghinakan kita sebagai aktivis meskipun kita
sering diteriaki “tidak
profesional” karena sering pulang lebih dulu saat rapat.
Yaa akhiy... bantu kami agar tetap
teguh menjaga kehormatan kami dengan mematuhi jam malam akhwat. Nasehati kami
jika kami melanggar, pun ijinkan kami pulang meninggalkan antum yang sedang
berjuang dimedan yang sama dengan kami.
Semoga kita adalah akhwat-akhwat
pilihan Alloh yang diberikan kekuatan untuk istiqomah dijalan dakwah ini dengan
mematuhi perintah NYA dan menjauhi larangan NYA. Ukhibukum fillah....

Komentar
Posting Komentar