Enjoy With AAI
“Dan hendaklah ada di
antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang
makruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Ali Imran : 104)
Apapun
yang terjadi kami tetap menyeru. Menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari yang
mungkar. Kita harus siap menghadapi segala rintangan dalam menghadapi medan
dakwah ini. Dan pada hakikatnya pelaku kebaikan lebih sedikit daripada pelaku
keburukan, dan inilah peran kita sebagai penyeru dakwah, dan sekali lagi inilah
peran kita wahai calon asisten AAI.
Saya akan coba menilik
sebentar dari AAI
yang pernah saya ikuti di semester 1.
Setiap kelompok AAI pasti memiliki kelebihan dan
kekurangannya masing-masing. Tak banyak dari
temen-temen yang istiqomah dalam setiap pertemuan, pasti ada saja alasan tidak
berangkat AAI.
Pernah saya jumpai dalam lingakaran itu hanya terdapat 1 asisten dan 3 binaan.
Dimana yang lainnya? entahlah Allah lebih tahu isi hati para hamba-hambaNya.
Namun hal itu lebih baik daripada berhenti dan tidak pernah sampai pada tujuan.
Dakwah akan tetap berjalan dengan ataupun tanpa kita. Tak hanya itu,
disiplin waktu juga penting karna salah satu cerminan pribadi muslim adalah
haritsun ‘ala waqti (pandai mengatur waktu). Nah, ini yang menjadi ciri khas
orang Indonesia. Molor. AAI tidak segera dimulai jika personil gak lengkap
kecuali memang berhalangan hadir. Menunggu dan teruslah menunggu. Eh pas
penyampaian materi malah banyak yang mainan laptop, ngomong sendiri tanpa
memperhatikan ceramah asisten, malah asistennya yang setia menjadi pendengar,
alhasil materi yang disampaikan asisten malah tidak mengena seperti angin
lewat. Ini yang menyebabkan waktu tidak
efisien. Tetapi saya bangga kepada teman-teman AAI saya, walaupun mereka tidak
pernah serius tetapi mereka memiliki rasa keingintahuan yang besar terhadap
Islam sampai asisten saya pun berhasil membawa pulang pertanyaan.
Kondisi
Halaqoh ideal seperti apa sih?
Tarbiyah bukanlah segala-galanya akan tetapi
segala-galanya berawal dari tarbiyah. Dari tarbiyah inilah kita akan dibentuk
menjadi pribadi pilihan yang siap berbuat baik dalam kehidupan. Membina AAI juga diperlukan
kesabaran, kreatif dan inovatif. Kita harus punya komitmen dengan agenda-agenda
AAI kita. Jadi yang
namanya mentoring itu harus dilakukan rutin setiap sepekan sekali sehingga
menumbuhkan solidaritas antar sesama. Dalam kegiatan mentoring juga terdapat
proses belajar dan mengajar. Idealnya kegiatan mentoring tidak hanya fokus kepada bagaimana
orang memberi
nasehat tetapi juga bagaimana orang mendengar nasehat. Dan semua itu butuh
perencanaan dan konsep bagaimana menciptakan AAI yang bernuansa fun, tidak terkesan
horror. Apalagi yang kita bina adalah pemula yang sebelumnya belum pernah
memiliki grup halaqoh, pasti akan kaget jika cara penyampaian kita ekstreem
sehingga mereka akan pupus satu per satu dari lingkaran kita, lingkaran yang
idealnya berisi 8-10 binaan menjadi 2-4 yang akan tetap konsisten, jangan
sampai terjadi walaupun sebenarnya hidayah itu datang dari Allah.
Sekali
lagi, untuk mendinamiskan AAI, juga perlu variasi
acara agar lebih inovatif, tidak jemu, dan berpotensi untuk peserta mentoring.
Jadi AAI tidak hanya diisi
dengan materi tetapi juga butuh refreshing seperti mabit, outbond, rihlah,
riyadhoh dan makan-makan agar ukhuwah kita lebih terasa dan terjaga.


Komentar
Posting Komentar