Andaikan Ramadhan ini Ramadhan Terakhir
"Sungguh telah datang padamu bulan yang
penuh berkah, dimana Allah mewajibkan kamu berpuasa, di
saat dibuka pintu-pintu surga, ditutup
pintu-pintu neraka dan dibelenggu setan-setan dan dimana dijumpai suatu
malam yang nilainya lebih berharga dari seribu
bulan. Maka barang siapa yang tidak berhasil beroleh kebaikannya,
sungguh tiadalah ia akan mendapatkan itu buat selama-lamanya."
(HR. Ahmad, Nasa'i dan Baihaqi)
|
A
|
lhamdulillah,
pada tahun ini kita masih dipertemukan dengan tamu mulia bulan suci Ramadhan.
Bulan penuh berkah, rahmat, maghfiroh, bulan diwajibkan shiyam dan
diturunkannya Al-Qur’an sebagai hidayah untuk manusia. Malam kemuliaan yang
lebih baik dari seribu bulan. Bulan ibadah dan pembinaan kaum muslimin menuju
derajat muttaqiin.
Akan tetapi, apakah ada jaminan kita masih diberi umur
hingga ramadhan tahun depan? TIDAK, umur manusia tidak ada yang tahu kecuali
Allah SWT. Untuk itu, jadikanlah ramadhan ini ramadhan terbaik dari ramadhan
sebelumnya.
Lalu
langkah apa yang harus kita lakukan?????
·
Khutbah Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wa sallam menyambut Ramadhan
Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wa sallam sangat gembira dan memberikan
kabar gembira kepada umatnya dengan datangnya bulan Ramadhan. Rasulullah shalallahu
‘alaihi wa sallam menyebutkan keutamaan-keutamaannya
dalam pidato penyambutan bulan suci Ramadhan:
Dari Salman Al-Farisi ra. berkata: “Rasulullah shalallahu
‘alaihi wasallam berkhutbah pada hari terakhir bulan Sya’ban: Wahai manusia telah
datang kepada kalian bulan yang agung, bulan penuh berkah, didalamnya
ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah menjadikan puasanya wajib,
dan qiyamul lailnya sunnah. Siapa yang mendekatkan diri dengan
kebaikan, maka seperti mendekatkan diri dengan kewajiban di bulan
yang lain. Siapa yang melaksanakan kewajiban, maka seperti melaksanakan 70 kewajiban di bulan lain. Ramadhan
adalah bulan kesabaran, dan kesabaran balasannya adalah surga.
Bulan solidaritas, dan bulan ditambahkan rizki orang beriman. Siapa
yang memberi makan orang yang berpuasa, maka diampuni dosanya
dan dibebaskan dari api neraka dan mendapatkan pahala seperti
orang orang yang berpuasa tersebut tanpa dikurangi pahalanya sedikitpun
». kami berkata : »Wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam Tidak
semua kita dapat memberi makan orang yang berpuasa ? ». Rasul shalallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:” Allah memberi pahala kepada orang
yang memberi buka puasa walaupun dengan satu biji kurma atau seteguk air atau susu. Ramadhan adalah bulan
dimana awalnya rahmat, tengahnya maghfirah dan akhirnya pembebasan
dari api neraka . Siapa yang meringankan orang yang dimilikinya , maka Allah
mengampuninya dan dibebaskan dari api neraka. Perbanyaklah
melakukan 4 hal; dua perkara membuat Allah ridha dan dua perkara Allah
tidak butuh dengannya. 2 hal itu adalah; Syahadat Laa ilaha illallah
dan beristighfar kepada-Nya. Adapaun 2 hal yang Allah tidak butuh
adalah engkau meminta surga dan berlindung dari api neraka. Siapa yang
membuat kenyang orang berpuasa, Allah akan memberikan minum dari telagaku (Rasul saw) satu kali minuman yang tidak akan
pernah haus sampai masuk surga”
(HR
al-‘Uqaili, Ibnu Huzaimah, al-Baihaqi, al-Khatib dan al-Asbahani).
·
Persiapan Diri Secara Maksimal
a.
Persiapan Mental
Persiapan
mental untuk puasa dan ibadah terkait lainnya sangat penting.
Apalagi pada saat menjelang hari-hari terakhir, karena tarikan
keluarga yang ingin belanja mempersiapkan hari raya, pulang kampung dll, sangat mempengaruhi umat
Islam dalam menunaikan kekhusu’an
ibadah Ramadhan. Dan kesuksesan ibadah Ramadhan seorang
muslim dilihat dari akhirnya. Jika akhir Ramadhan diisi dengan
i’tikaf dan taqarrub yang lainnya, maka insya Allah dia termasuk
yang sukses dalam melaksanakan ibadah Ramadhan.
b.
Persiapan ruhiyah (spiritual)
Persiapan
ruhiyah dapat dilakukan dengan memperbanyak ibadah, seperti
memperbanyak membaca Al-Qur’an, saum sunnah,
dzikir, do’a dll. Dalam hal mempersiapkan
ruhiyah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi
wa sallam mencontohkan
kepada umatnya dengan memperbanyak
puasa di bulan Sya’ban, sebagaimana yang diriwayatkan
‘Aisyah ra. berkata:” Saya tidak melihat Rasulullah shalallahu
‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasanya, kecuali di bulan Ramadhan. Dan saya tidak
melihat dalam satu bulan yang lebih
banyak puasanya kecuali pada bulan Sya’ban” (HR Muslim).
c.
Persiapan fikriyah
Persiapan
fikriyah atau akal dilakukan dengan mendalami ilmu, khususnya
ilmu yang terkait dengan ibadah Ramadhan. Banyak orang
yang berpuasa tidak menghasilan kecuali lapar dan dahaga. Hal ini dilakuakan karena puasanya tidak
dilandasi dengan ilmu yang cukup.
Seorang yang beramal tanpa ilmu, maka tidak menghasilkan kecuali kesia-siaan belaka.
d.
Persiapan Fisik dan Materi
Seorang
muslim tidak akan mampu atau berbuat maksimal dalam berpuasa
jika fisiknya sakit. Oleh karena itu mereka dituntut untuk menjaga kesehatan fisik, kebersihan
rumah, masjid dan lingkungan.
Rasulullah
mencontohkan kepada umat agar selama berpuasa tetap memperhatikan
kesehatan. Hal ini terlihat dari beberapa peristiwa di
bawah ini :
>>Menyikat
gigi dengan siwak (HR. Bukhori dan Abu Daud).
>>Berobat
seperti dengan berbekam (Al-Hijamah) seperti yang diriwayatkan
Bukhori dan Muslim.
>>Memperhatikan
penampilan, seperti pernah diwasiatkan Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat Abdullah ibnu Mas’ud ra, agar memulai puasa
dengan penampilan baik dan tidak
dengan wajah yang cemberut. (HR. Al-Haitsami).
Sarana penunjang
yang lain yang harus disiapkan adalah materi yang
halal. untuk bekal ibadah Ramadhan. Idealnya seorang muslim telah menabung selama 11 bulan sebagai
bekal ibadah Ramadhan. Sehingga
ketika datang Ramadhan, dia dapat beribadah secara khusu’
dan tidak berlebihan atau ngoyo dalam mencari harta atau kegiatan lain yang mengganggu kekhusu’an
ibadah Ramadhan.
·
Merencanakan Peningkatan Prestasi Ibadah
(Syahrul Ibadah)
Ibadah
Ramadhan dari tahun ke tahun harus meningkat. Tahun depan harus lebih baik dari tahun ini, dan
tahun ini harus lebih baik dari tahun
lalu. Ibadah Ramadhan yang kita lakukan harus dapat merubah dan memberikan output yang positif.
Perubahan pribadi, perubahan keluarga,
perubahan masyarakat dan perubahan sebuah bangsa. Allah SWT
berfirman : « Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah
keadaan yang ada pada diri mereka
sendiri » (QS AR- Ra’du 11).
Diantara
bentuk-bentuk peningkatan amal Ibadah seorang muslim di bulan
Ramadhan, misalnya; peningkatan ibadah puasa, peningkatan dalam tilawah Al-Qur’an, hafalan,
pemahaman dan pengamalan. Peningkatan
dalam aktifitas sosial, seperti: infak, memberi makan kepada
tetangga dan fakir-miskin, santunan terhadap anak yatim, beasiswa terhadap siswa yang membutuhkan
dan meringankan beban umat
Islam. Juga merencanakan untuk mengurangi pola hidup konsumtif dan memantapkan tekad untuk tidak
membelanjakan hartanya, kecuali kepada
pedagang dan produksi negeri kaum muslimin, kecuali dalam keadaan yang sulit (haraj).
·
Mengutamakan Ukhuwah Islamiyah dan
Persatuan Umat Islam
Bulan
Ramadhan adalah bulah rahmat, dimana kasih sayang dan persaudaraan
harus diutamakan dari yang lainnya. Ukhuwah Islamiyah adalah
prinsip dari kebaikan umat Islam. Sehingga ibadah Ramadhan harus berdampak pada ukhuwah Islamiyah.
Dan ukhuwah Islamiyah ini harus
terlihat jelas dalam penentuan awal dan akhir Ramadhan dan mengsisi ibadah Ramadhan. Namun
demikian, semuanya harus tetap komitmen
dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Diperlukan
sikap bijak dari para ulama untuk bertemu dan duduk dalam satu majelis bersama pemerintah
(Departemen Agama) menentukan kesamaan
awal dan akhir Ramadhan. Tentunya berdasarkan argumentasi
ilmiyah yang kuat dan landasan-landasan yang kokoh berdasarkan
Syariat Islam. Memang perbedaan pendapat (dalam masalah
furu) adalah rahmat. Tetapi kesamaan penentuan awal dan akhir
Ramadhan lebih lebih dekat dari rahmat Allah yang diberikan kepada orang-orang yang bertaqwa.
Perbedaan pendapat dalam penentuan
awal dan akhir Ramadhan adalah suatu pertanda belum terbangun
kuatnya budaya syuro’, ukhuwah Islamiyah dan pembahasan ilmiyah
dalam tubuh umat Islam, lebih khusus lagi para ulamanya.
Ukhuwah
Islamiyah dan persatuan umat Islam jauh lebih penting dari ibadah-ibadah sunnah dan perbedaan
pendapat tetapi menimbulkan perpecahan.
·
Menjadikan Ramadhan sebagai Syahrut
Taubah (Bulan Taubat)
Bulan
Ramadhan adalah bulan dimana syetan dibelenggu, hawa nafsu
dikendalikan dengan puasa, pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka.
Sehingga bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat kondusif untuk bertaubat dan memulai hidup baru
dengan langkah baru yang lebih
Islami. Taubat berarti meninggalkan kemaksiatan,
dosa dan kesalahan serta kembali
kepada kebenaran. Atau kembalinya hamba kepada Allah SWT, meninggalkan jalan orang yang dimurkai
dan jalan orang yang sesat. Taubat
bukan hanya terkait dengan meninggalkan kemaksiatan, tetapi
juga terkait dengan pelaksanaan perintah Allah. Orang yang bertaubat masuk kelompok yang beruntung.
Allah SWT. berfirman: “Dan bertaubatlah
kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (QS An-Nuur 31).
Oleh
karena itu, di bulan-bulan Ramadhan orang-orang beriman harus memperbanyak istighfar dan taubah
kepada Allah SWT. Mengakui kesalahan
dan meminta ma’af kepada sesama manusia yang dizhaliminya
serta mengembalikan hak-hak mereka. Taubah dan istighfar
menjadi syarat utama untuk mendapat maghfiroh (ampunan), rahmat dan karunia Allah SWT. “Dan
(dia berkata): "Hai kaumku, mohonlah
ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya
Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu,
dan janganlah kamu berpaling
dengan berbuat dosa." (QS Hud : 52)
·
Menjadikan bulan Ramadhan sebagai
Syahrut Tarbiyah & Da’wah
Bulan
Ramadhan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para da’i
dan ulama untuk melakukan da’wah dan tarbiyah. Terus melakukan
gerakan reformasi (harakatul ishlah). Membuka pintu-pintu hidayah dan menebar kasih sayang bagi
sesama. Meningkatkan kepekaan untuk
menolak kezhaliman dan kemaksiatan. Menyebarkan
syiar Islam dan meramaikan masjid dengan aktifitas ta’lim,
kajian kitab, diskusi, ceramah dll, sampai terwujud perubahan-perubahan
yang esensial dan positif dalam berbagai bidang
kehidupan. Ramadhan bukan bulan istirahat yang menyebabkan
mesin-mesin kebaikan berhenti bekerja, tetapi momentum
tahunan terbesar untuk segala jenis kebaikan, sehingga kebaikan
itulah yang dominan atas keburukan. Dan dominasi kebaikan
bukan hanya dibulan Ramadhan, tetapi juga diluar Ramadhan
·
Mengambil Keberkahan Ramadhan secara
Semaksimal
Ramadhan
adalah bulan penuh berkah, penuh berkah dari semua sisi
kebaikan. Oleh karena itu, umat Islah
harus mengambil keberkahan
Ramadhan dari semua aktifitas positif dan dapat memajukan
Islam dan umat Islam. Termasuk dari sisi ekonomi, sosial,
budaya dan pemberdayaan umat. Namun demikian semua aktifitas
yang positif itu tidak sampai mengganggu kekhusu’an ibadah
ramadhan terutama di 10 terakhir bulan Ramadhan.
Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan bulan puasa
sebagai bulan penuh amaliyah dan aktivitas positif. Selain yang telah tergambar seperti tersebut di
muka, beliau juga aktif melakukan
kegiatan sosial kemasyarakatan. Rasulullah saw . menikahkan
putrinya (Fathimah) dengan Ali RA, menikahi Hafsah dan
Zainab.
·
Menjadikan Ramadhan sebagai Syahrul
Muhasabah (Bulan Evaluasi)
Dan
terakhir, semua ibadah Ramadhan yang telah dilakukan tidak boleh lepas dari muhasabah atau
evaluasi. Muhasabah terhadap langkah-langkah
yang telah kita perbuat dengan senantiasa menajamkan
mata hati (bashirah), sehingga kita tidak menjadi orang/kelompok
yang selalu mencari-cari kesalahan orang/kelompok lain
tanpa mau bergeser dari perbuatan kita sendiri yang mungkin jelas kesalahannya.
Semoga
Allah SWT senantiasa menerima shiyam kita dan amal shaleh
lainnya dan mudah-mudahan tulisan ini dapat membangkitkan semangat beribadah kita sekalian
sehingga membuka peluang bagi terwujudnya
Indonesia yang lebih baik, lebih aman, lebih adil dan lebih
sejahtera. Dan itu baru akan terwujud jika bangsa ini yang mayoritasnya adalah umat Islam kembali
kepada Syariat Allah.
.jpg)


Komentar
Posting Komentar